Apa Itu Sekaten?

Sekaten adalah salah satu upacara tradisional terbesar yang masih dilestarikan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Diselenggarakan setiap tahun pada bulan Maulud (Rabiul Awal) dalam kalender Hijriah, perayaan ini berlangsung selama tujuh hari dan berpusat di alun-alun utara Yogyakarta serta pelataran Masjid Gedhe Kauman.

Nama "Sekaten" dipercaya berasal dari kata Arab syahadatain — dua kalimat syahadat — yang mencerminkan tujuan awal perayaan ini sebagai media dakwah Islam di tanah Jawa oleh para Wali Songo.

Sejarah dan Asal-Usul

Sekaten bermula pada era Kesultanan Demak di abad ke-15, ketika para wali menggunakan atraksi gamelan sebagai sarana menarik masyarakat untuk mengenal ajaran Islam. Tradisi ini kemudian diwarisi oleh Kerajaan Pajang dan diteruskan hingga Kesultanan Mataram, lalu berpusat di dua kota besar: Yogyakarta dan Surakarta.

Rangkaian Ritual Sekaten

Upacara Sekaten memiliki urutan ritual yang kaya makna:

  1. Miyos Gangsa — Gamelan Sekaten yang sakral, yaitu Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga, dikeluarkan dari keraton menuju Pagongan di kiri-kanan Masjid Gedhe dalam prosesi khidmat.
  2. Nabuh Gamelan Seminggu — Dua perangkat gamelan tersebut ditabuh tanpa henti selama tujuh hari dan tujuh malam, mengundang masyarakat dari seluruh penjuru untuk hadir.
  3. Kondur Gangsa — Pada hari ketujuh, gamelan dikembalikan ke dalam keraton.
  4. Grebeg Maulud — Puncak perayaan berupa arak-arakan gunungan, tumpeng raksasa berbentuk gunung yang terbuat dari hasil bumi, diarak dari keraton menuju Masjid Gedhe untuk didoakan, lalu diperebutkan oleh masyarakat.

Makna Filosofis Gunungan

Gunungan bukan sekadar tumpukan makanan. Ia adalah simbol kemakmuran dan berkat yang dibagikan raja kepada rakyatnya. Bentuknya yang menyerupai gunung mencerminkan kosmologi Jawa di mana gunung adalah tempat bersemayamnya kekuatan spiritual. Masyarakat yang berhasil mendapatkan bagian dari gunungan meyakini akan mendapat berkah sepanjang tahun.

Pasar Malam Sekaten

Selain ritual inti, Sekaten juga identik dengan pasar malam besar yang memenuhi alun-alun. Berbagai dagangan khas hadir: mulai dari jajanan tradisional seperti jenang, gula-gula Jawa, dan wedhang ronde, hingga permainan rakyat dan pertunjukan seni. Pasar ini menjadi ruang sosial yang mempertemukan semua lapisan masyarakat — bangsawan dan rakyat jelata — dalam satu kegembiraan bersama.

Sekaten di Era Modern

Meski zaman telah berubah, Sekaten tetap dipertahankan oleh Keraton Yogyakarta sebagai bentuk tanggung jawab budaya. Saat ini, upacara ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang signifikan, mendatangkan pengunjung dari seluruh Indonesia dan mancanegara. Namun esensinya tetap terjaga: sebuah pengingat bahwa Islam dan tradisi Jawa dapat berjalan berdampingan dalam harmoni yang indah.